13 Oktober 2014

Kabut Asap Tutup Tiga Bandara di Sumatera

Jarak pandang yang hanya 200-500 meter membuat pesawat tidak berani terbang. Selain itu, kualitas udara di wilayah pesisir timur Sumatra sudah mencapai tahap sangat tidak sehat. Melonjaknya jumlah titik api pembakaran hutan dan lahan di pesisir timur Sumatra, yakni Sumatra Selatan, Jambi, dan Riau, membuat kabut asap di wilayah itu kian pekat. Akibatnya sempat melumpuhkan operasional bandar udara.

Berdasarkan pantauan satelit Terra, kemarin pukul 10.28 WIB, yang dilansir http://www.weather.gov.sg, terdeteksi sedikitnya 647 titik api. Kondisi itu membuat operasional Bandara Sultan Syarif Kasim II, Pekanbaru, lumpuh dan mulai beroperasi lagi pada pukul 14.00.
“Sebanyak 10 jadwal keberangkatan dan delapan kedatangan dibatalkan. Tebalnya kabut asap kerap mengganggu penerbangan,“ kata Airport Duty Manager of Sultan Syarif Kasim II International Airport Baikuni, kemarin.

Menurut Baikuni, operasi bandara ditutup karena jarak pandang penerbangan terbatas sekitar 500 meter. Padahal, amannya minimal 1.000 meter. Aktivitas penerbangan di Bandara Sultan Thaha Syaifuddin, Kota Jambi, juga dihentikan. Tutupan kabut asap hingga pukul 12.00 menyebabkan jarak pandang di Kota Jambi cuma sejauh 500 sampai 1.000 meter. “Tidak satu pun pesawat berani mendarat.Hanya satu yang menginap dan terbang pagi,“ ujar Kepala Bandara Sultan Thaha Dorma Manalu.

Ratusan penumpang yang telanjur mengantongi tiket dan nomor pemesanan antre berjubel mengembalikan tiket di sejumlah loket maskapai.

“Ya mau gimana lagi? Capek juga menunggu tanpa kepastian berangkat. Saya mencoba berangkat lewat Padang, Sumatra Barat,“ ujar Aliang, pengusaha asal Jakarta.Hal yang sama juga terjadi pada Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II, Palembang, Sumatra Selatan. Sebanyak 14 pesawat harus menunda keberangkatan hingga pukul 09.00.

“Jarak pandang kurang dari 200 meter,“ kata Pelaksana Tugas (Plt) General Manager Angkasa Pura II Huzain Achmadi di Palembang.

Menurutnya, sebelum pukul 06.00, hanya dua maskapai yang berhasil terbang dari Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Satu pesawat dari Malaysia terpaksa mengalihkan penerbangan ke Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Garuda Indonesia membatalkan keberangkatan pada pukul 07.00 ke Jakarta.

Di sisi lain, kualitas udara di pesisir timur Sumatra tersebut terus memburuk. Kondisi saat ini, kata Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Riau Yulwiriati Moesa, sudah menunjukkan posisi sangat tidak sehat atau menuju berbahaya. “Sudah di atas 200 PSI,“ jelasnya. Penegakan hukum Polisi sudah menetapkan 13 tersangka dari empat kasus pembakaran lahan di Sumatra Selatan. Dua di antaranya karyawan PT Perkebunan Nusantara VII Cinta Manis dan lainnya merupakan warga biasa.

Di tempat terpisah, Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin menginstruksikan aparat penegak hukum untuk menindak tegas para pembakar hutan dan lahan di wilayah tersebut.

Polda Kalimantan Timur juga tengah menyelidiki kasus kebakaran lahan di wilayahnya dan Kalimantan Utara yang menyebabkan kabut asap. Namun, hingga kini mereka belum menetapkan satu orang pun sebagai tersangka. (AN/SL/DY/ SY/X-8) Media Indonesia, 13/10/2014, hal : 2